Tim AKUR Gundul Kepala Tim Sejumlah Pejabat KBB yang Dipanggil KPK

oleh -90 views

 

foto Hadi Wibowo/Ragam Daerah
NAZAR: Tim AKUR Asep Suhardi dan Ujang Rohman saat nazar gundul rambut tim AKUR di wilayah Saguling KBB, Kamis (28/6/2018).

PADALARANG- Tim AKUR (Aa Umbara Sutisna-Hengky Kurniawan) pemenang perhelatan pilkada KBB memberikan sinyal kemenangan dengan selebrasi gundul rambut.

Simbol itu sebanyak 20 orang digunduli sebagai simbol kemenangan. “Kami sudah nazar jika gundul rambut ini sebagai simbol bersih dari berbagai persoalan membuka lembaran baru ke arah yang lebih maju,” ujar TIM AKUR Ujang Rohman saat menggelar doa bersama di rumah kediaman Sang Deklarator KBB, Asep Suhardi di Pondok Padalarang Indah Blok D 5 No 5 Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, KBB, Kamis (28/6/2018). Hadir tim AKUR dari unsur Partai Nasdem Ketua Bappilu, Jajang Solihin, Kiki, dan relawan lainnya.

“Mudah-mudahan kemenangan ini membawa perubahan yang lebih baik lagi di KBB, mari kita bersama-sama bersatu membangun KBB tercinta ini,” sebut Ujang.

Ujang Rohman sebagai MPI DPD KNPI KBB bersama Deklarator KBB, Asep Suhardi simbolis mencukur rambut tim pemenangan AKUR yang berada di wilayah Saguling. “Yang dicukur saat ini sebanyak pejabat KBB yang dipanggil KPK. Kami ingin ke depan KBB bersih dari segala persoalan,” kata Mang Ado–sapaan akrabnya.

Ado meminta kepada bupati terpilih nanti bisa menyeleksi pejabat eselon 2 KBB yang bersih tidak tersangkut persoalan hukum. “Yang sudah ada catatan di KPK tidak usah diberi porsi jabatan karena ke depan Pemerintah KBB harus bersih dan maju,” tandasnya.

Di masa lalu, menurut Anthony Reid, laki-laki dan perempuan Asia Tenggara menghargai rambutnya seperti mencintai kepalanya. Rambut merupakan suatu lambang dan petunjuk diri yang menentukan. Tak heran jika hingga kurun niaga (abad ke-17), laki-laki dan perempuan didorong untuk menumbuhkan rambut sepanjang dan selebat mungkin.

“Oleh karena itu,” tulis Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, “memotong rambut lebih merupakan pengorbanan.”

Misalnya, pemotongan rambut kawula, terutama perempuan istana, setelah mangkatnya seorang raja sebagaimana dilaporkan di Aceh, Patani, Siam, dan Johor pada abad ke-17. Pemotongan rambut ini, “secara simbolis mewakili pengorbanan yang di zaman pra-Islam mungkin harus menyita jiwa manusia.”

Begitu pula dengan sang raja. Upacara pemotongan rambut panjang Aru Palakka pada 1672 setelah kemenangannya atas Makassar dan rambut Susuhunan Pakubuwono I pada 1715 “mungkin bisa diterangkan dalam hubungannya dengan sumpah berkorban setelah beroleh rahmat tuhan.”

Aru Palakka adalah raja Bone yang meloloskan diri ketika kerajaan Makassar menyerang kerajaan Bone untuk menguasai pelayaran di Indonesia Timur dan produksi beras Sulawesi Selatan. Aru Palakka, bersekutu dengan Kompeni, menghancurkan kerajaan Makassar. Aru Palakka mencukur rambutnya di atas Gunung Cempalagi, Bone, Pulau Selebes (Sulawesi).

Menurut Muhammad Yamin dalam Sedjarah Peperangan Dipanegara: Pahlawan Kemerdekaan Indonesia, mencukur rambut seusai mendapat kemenangan adalah adat bagi pahlawan peperangan yang bernazar. Selain Aru Palakka, Pangeran Diponegoro pernah bernazar akan menggunduli kepalanya jika meraih kemenangan dalam peperangan. (wie)