Perang Air Warga Cikole Lembang Dibaratkan ‘Saling Serang’ Cawapres 2019

oleh -176 views
Puluhan orang, tua muda bahkan wanita, dan anak-anak ikut terlibat dalam perang air dalam Festival Palagan Toya di Alun-alun Desa, baru-baru ini.

SIAYASAH.ID– Menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia pariwisata di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Mempertahan tradisi leluhur, itu yang dilakukan warga Kampung Cibedug, Desa Cikole, Kecamatan Lembang. Puluhan orang, tua muda bahkan wanita, dan anak-anak ikut terlibat dalam perang air dalam Festival Palagan Toya
di Alun-alun Desa, baru-baru ini.

Ceritanya, puluhan warga terlibat bentrokan dan melakukan aksi saling lempar. Menariknya, warga menggunakan susu sapi dan kopi luwak yang dikemas dalam bungkus plastik sebagai amunisi perang.

Aksi saling lempar antarwarga pun berlangsung secara intens kurang lebih selama 10 menit. Tak ada yang terluka dalam bentrokan ini, hanya tawa dan gurau canda yang mewarnai sepanjang acara. Jauh dari kata mencekam, mereka saling bersalaman dengan senyum mengembang di akhir acara.

”Palagan Toya ini salah satu rangkaian acara Ruwatan Lembur Kampung Cibedug yang biasa dilakukan setiap tahun. Tapi festival saling lempar ini baru pertama kali dihelat,” ujar sesepuh adat Kampung Cibedug, Dede Atmadja,72, kepada wartawan, kemarin.

Dede menjelaskan, festival tersebut digelar sebagai cara untuk mempererat silatu­rahmi antarwarga dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, karena telah membe­rikan segala-galanya untuk warga Cibedug.

Sebagai amunisi, panitia menyiapkan 2.500 bungkus susu murni yang telah dicampur air dan 2.500 bungkus kopi luwak. Bahan-bahannya berasal dari urunan warga dan sumbangan dari pengusaha kopi luwak di Desa Cikole.

”Karena daerah Cikole ini merupakan daerah peternakan, semua yang terlibat mulai dari perangkat desa, tokoh adat, pemuka agama dan warga,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Cikole, Jajang Monas mengatakan, susu sapi dan kopi luwak yang digunakan berasal dari para peternak di wilayah Cikole. ”Ini jadi salah satu upaya untuk memperlihatkan ke khalayak banyak, bahwa Cikole sebagai wilayah penghasil kopi dan susu terbaik. Filosofi lainnya juga untuk menyatukan pandangan yang berbeda, antara hitam (kopi) dan putih (susu) menjadi satu,” ujar Jajang.

Di sisi lain, Jajang menuturkan, susu dan kopi menyiratkan dua kubu yang kini saling bersaing dalam merebut kursi menjadi Presiden dan Wakil Presiden pada Pemilihan Umum (Pemilu) 17 April 2019 mendatang. ”Meski saling lempar di awal, namun akhirnya kita bisa bersatu dan saling bersalam-salaman. Kalau disangkutkan dengan Pilpres, dua pendukung Capres dan Cawapres saat ini banyak yang berseteru karena perbedaan pilihan, tapi kami harapkan di akhir sama-sama mendukung pemenang,” ungkapnya.

Ketua Penyelenggara Palagan Toya, Vian menambahkan, kegiatan ini juga menjadi ajang promosi potensi daerah di bidang peternakan.

”Ini sebagai pengingat bahwa dalam waktu dekat akan datang musim kemarau dan bentuk syukuran bersama warga di sini,” pungkasnya. (***)