Diusulkan Santunan Rp 36 Juta, Pahlawan Demokrasi yang Gugur Bertambah

oleh -100 views

SIYASAH.ID – Pemilu 2019 menjadi duka yang mendalam dalam pesta demokrasi. Pahlawan demokrasi harus meregang nyawa dalam bertugas. Kini jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal terus bertambah.

Data terakhir dirilis Komisi Pemilihan Umum Pusat (KPU) hingga Senin (22/4) sore, sudah ada 90 petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dinyatakan meninggal dunia dan 374 orang sakit dalam tugas Pemilu 2019.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman mengatakan, pihaknya akan bertemu Kementerian Keuangan untuk membahas anggaran santunan bagi para petugas yang mengalami musibah itu.

”Kami besok rencanakan akan lakukan pertemuan dengan Kementerian Keuangan. Besok rencananya sekjen yang akan bertemu para pejabat Kementerian Keuangan,” kata Arief kepada wartawan dalam jumpa pers di Kantor KPU, Jakarta, Selasa (23/4/2019).

Dia mengusulkan, untuk besaran santunan terhadap petugas yang meninggal dunia sebesar Rp 36 juta. Sedangkan, petugas yang luka-luka yang menyebabkan kecacatan sebesar 30 juta. Dan untuk yang luka-luka mendapat Rp 16 juta.

Arie mengaku, selama ini untuk anggaran santunan bagi petugas KPPS tidak me­miliki pos anggaran. Namun, usulan ini harus bisa diwujudkan oleh Kemenkeu.

Sebelumnya, Mendagri Tjahjo Kumolo juga memastikan pemerintah akan mencairkan dana untuk santunan para petugas KPPS yang meninggal dunia. Namun, dia belum bisa memastikan besarannya sebab masih menunggu data dari KPU dan Bawaslu.

”Kami menunggu usulan dari Bawaslu dan KPU. Saya yakin Pemerintah akan mem­beri penghargaan, tetapi kalau soal anggaran nanti biar dari Bawaslu fix-nya, berapa untuk yang sakit, berapa yang meninggal termasuk KPPS, dan anggota Polri,” kata Tja­hjo lewat keterangan tertulis.

Sementara itu, di KPU Jawa Barat mencatat sampai saat ini 30 petugas Kelompok Penyelengara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dunia seusai menjalankan tugas mengitung dan merekap suara Pemilu 2019. Selain itu, ada 14 orang petugas lainnya dilaporkan sakit.

Berdasarkan laporan yang diterima KPU, puluhan petu­gas yang meninggal dan sakit itu tersebar di 16 kabupaten/kota. Di antaranya di Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Tasikmalaya dan beberapa daerah lainnya.

”Jumlah bertambah, ini rekor petugas meninggal dan sakit di Jabar ada 44 orang,” kata Ketua KPU Jabar Rifqi Ali Mubarok, kepada wartawan saat ditemui di Kantor KPU Jabar, Kota Bandung.

Dari laporan yang diterima, sebagian besar petugas KPPS yang meninggal itu karena faktor kelelahan. Pihaknya juga sampai saat ini masih menginventarisir laporan dari KPU kabupaten/kota.

”Semuanya (diduga) karena faktor kelelahan. Dari sisi usia juga rata-rata memang sudah berumur,” ucapnya.

Dia juga mengaku, tengah memikirkan uang santunan kepada keluarga yang diting­galkan. Pihaknya juga sudah melaporkan hal kepada KPU RI termasuk Pemprov Jabar agar bisa sama-sama memberikan santunan.

”Kita lakukan pendataan kemudian dilaporkan ke KPU RI sedang dibicarakan pem­berian santunan. Kemudian lapor juga ke Provinsi mudah-mudahan bisa beri santunan juga,” ucapnya. (***)